Hubungan Erat Antara Doa dan Ibadah

 


Semalam kita membahas terkait dengan pembahasan antara laki-laki dan perempuan, Maka, malam ini kita akan membahas terkait dengan ibadah, yang banyak di antara kita yang melupakan bahwasanya itu adalah sebuah ibadah, Bahkan itu merupakan sebuah kunci daripada ibadah, Bahkan inti daripada ibadah dan tujuan serta orientasi daripada ibadah itu sendiri, Apa itu? Berdoa kepada Allah,

Tidak ada seorang pun di antara kita, kecuali pasti pernah berdoa kepada Allah SWT, Tidak ada seorang pun di antara kita, kecuali pasti memerlukan pada doa kepada Allah SWT, Ketika seseorang dihimpit dengan permasalahan, dia akan berdoa, Ketika seseorang itu diberikan ujian berupa sakit, dia akan berdoa,

Ketika seseorang berada dalam keadaan hati yang gundah, pikiran yang galau, dia akan berdoa, Ketika seseorang berada di dalam kenikmatan pun, juga berdoa, Supaya nikmat itu tetap bersamanya dan tidak lepas darinya, Berdoa, Sholat, isinya doa, Puasa juga, Haji, zakat, dan semua ibadah, Semuanya, intinya berdoa,

Akan tetapi di sini, banyak yang tidak mengkorelasikan antara doa dan ibadah, Dan banyak yang lupa maupun naif, sehingga dia itu tidak mengetahuinya, antara ibadah itu yang berupa doa sesungguhnya, sangatlah erat terkait dengan syarat supaya doa itu dikabulkan, Sangat erat supaya doa itu diterima dan diijabah oleh Allah Ta’ala,

Oleh karenanya, malam ini kita akan membahas, bagaimana berdoa, apakah syaratnya doa yang dikabulkan, dan apakah sopan santun kita berdoa, sehingga kita semuanya termasuk yang diterima oleh Allah Ta’ala doanya, dikabulkan oleh Allah Ta’ala doanya, dan kemudian Allah Ta’ala memberikan yang terbaik untuk kita, Insya Allah, Aamiin Yaa Robbal ‘aalamiin,

Nabi kita Muhammad SAW bersabda di dalam haditsnya :

الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ,

Doa itu adalah intisari daripada ibadah, (Al Bukhari)

Doa itu adalah intisari daripada berbagai macam ibadah,

Di dalam hadits lain disebutkan :

الدُّعَاءُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ,

Doa itu adalah senjata, (HR. Al Hakim)

 senjata itu kita jadikan sebagai bahan atau media untuk kita mempertahankan diri atau melukai, Itu adalah senjata, Jadi tidak dikeluarkan, kecuali sebagai pamungkas, Ketika kepepet,

Oleh karenanya, kita akan membahas doa, Akan tetapi, doa itu sendiri bukan seperti yang kita ketahui, Ya karena doa itu adalah ibadah, maka doa itu memerlukan kepada prosedur, tata cara, Dan Nabi kita Muhammad SAW sebagai seorang Nabi terbaik, Rasul yang terbaik, yang paling baik pula kepada umatnya, yang paling cinta dan perhatian pada umatnya, beliau telah menyampaikan menyampaikan kepada kita semua,

إِنِّي تَرَكْتُكُمْ عَلَى مَهَجَّةِ الْبَيْضَاءِ, لَيَالِيْهَا كَنَهَارِهَا, لَا يُزِيْغُ عَنْهَا اِلَّا وَ ضَلَّ,

 “Aku tinggalkan kalian dalam keadaan syariat yang aku bawa ini, semuanya jelas, Bagaikan batu yang berwarna putih,” (Ibnu Majah)

etidak ada nodanya sama sekali, Bahkan kalau diumpakan, coba lihat bagaimana kecerdasan Nabi Muhammad, hebatnya Nabi Muhammad, Nabi Muhammad mengumpamakan syariat ini dengan batu yang putih, yang tidak ada noda sama sekali, Sehingga jelas, Warnanya putih, Tidak ada warna ini hitam, ini merah, ini coklat, tidak, Putih, Siapapun mengatakan, ini putih, Gak ada nodanya sama sekali, Sanking jelasnya,

Berbeda kalau seumpama warnanya abu-abu, warnanya coklat, Bisa jadi ada yang mengatakan, “Ini putih, tapi agak berbaur coklat, Putih tapi agak kotor”, Oh etidak ini hitam, oh etidak ini coklat, Jadi macam-macam,

Tapi putih, Kalau sudah dikatakan putih, maka semua orang akan memastikan bahwa warnanya itu adalah warna yang putih tidak bercampur dengan warna apapun juga, Berbeda kalau merah, Ada merah kelabu, Ada merah oren, Ada merah jambu, Ada merah yang baru lagi, ada merah Fanta, Macam-macam, Begitu pula biru, hijau, dan lain sebagainya, Kalau putih, satu, Gak ada putih kelabu, atau putih jambu, gak ada, Atau putih jeruk, Putih songkok, putih di kopiah gitu, Atau putih kafan, gak ada, Putih itu satu, Itu hebatnya Nabi SAW di dalam perumpaan itu luar biasa,

Ditambah lagi yang kedua, Yang kedua, Nabi SAW mengumpamakan :

لَيَالِيْهَا كَنَهَارِهَا

 Kalau seumpama diperumpamakan dengan perumpamaan yang kedua, Syari’at yang aku bawa ini sama seperti siang, Kalau seumpama siang, siang itu pasangannya apa? Kan berpasangan, pasangannya siang apa? Malam, Harus ada siang dan malamnya kan? Ada siang, ada malam, Saya bisa lihat, tidak ada malamnya, Semua siang, Dari saking jelasnya,

Untuk apa Nabi SAW menggambarkan dengan gambar yang kedua? Putih dan hitam, bisa jadi orang itu gak paham, Orang bodoh, orang yang belajar di SLB, orang idiot, bisa jadi dia gak paham, Sehingga ada yang namanya buta huruf, Sehingga Nabi SAW menggambarkan dengan gambar yang kedua, Gambar yang kedua Nabi SAW mengatakan, Malamnya pun seperti siang, Sehingga tidak ada malam, dalam syariatku tidak ada malam, Siapa yang gak tahu siang?

Anak kecil, tahu siang, Orang yang sudah tua, tahu siang, Orang desa, tahu siang, Orang kota, tahu siang, Yang gak berpendidikan, tahu siang, Yang berpendidikan tahu siang, Semuanya tahu siang, Sehingga gak ada yang namanya buta, keadaan buta siang atau buta malam, itu gak ada, Tapi buta warna, ada, Buta huruf, ada, Tapi buta siang atau malam, gak ada, Kecuali kalau orang gila, gitu,

Kan ada ceritanya itu, Tapi gak tahu cerita itu benar apa etidak, Ada orang gila,  jalan-jalan di Rumah Sakit Jiwa, Dan kebetulan bertemu dan berjumpa dengan orang gila yang lagi duduk, baca Koran, tapi korannya dibaca dalam keadaan terbalik, Korannya dibaca, dia lagi khusyuk dia baca, tapi korannya itu terbalik dibacanya,

Akhirnya dia tanya, “Mohon maaf, saya mau bertanya”, “Iya, silakan,” katanya, “Sekarang siang apa malam?” Apa jawaban si orang gila itu? “Maaf, saya bukan orang sini, saya tidak tahu”, Nah itu orang gila, Kecuali orang gila, gak tahu siang dan malam, Tapi selain orang gila, pasti tahu,

Oleh karena itu, kita lihat bagaimana Nabi SAW hebatnya itu, Kenapa Nabi Muhammad SAW mengatakan syariatnya itu sudah jelas? Semua sudah dibahas, Jangan kita itu pakai sok-sok mengatakan bahwasanya, “Ini  tidak ada dalam pembahasan Islam, Ini tidak berada dalam pembahasan syariat”, Siapa yang berkata seperti itu? Semuanya masuk dalam koridor syariat, Walaupun masuk masa yang terbaru, Berada di dalam koridor syari’at,

Terkait dengan akhir zaman, ada di dalam koridor syari’at, Semuanya sudah dijelaskan, Sehingga Nabi SAW bersabda di dalam haditsnya, “Tidak pernah aku ketahui daripada suatu kebaikan, kecuali sudah aku sampaikan kepada kalian, dan aku perintahkan dan himbau kalian untuk melaksanakannya, Dan tidak pernah aku ketahui daripada suatu keburukan, kecuali pasti aku sudah sampaikan kepada kalian, dan aku sudah melarang kepada kalian untuk mendekati atau bahkan melakukannya”, Itulah Nabi kita Muhammad SAW,

Oleh karenanya, terkait dengan doa disebutkan bagaimana cara-caranya, disebutkan, Oleh karenanya, salah satu pendekatan yang paling luar biasa antara Allah dengan hamba-Nya adalah doa, Allah Ta’ala tidak pernah merayu hamba-Nya, seperti ketika Allah meminta kepada kita untuk berdoa kepada-Nya,

Bahkan kenapa Allah ciptakan manusia itu bermacam-macam, beragam-ragam, Dari mulai bentuk sifatnya, karakter dan tabiatnya, sosial maupun lingkunganya, Kenapa? Supaya kita itu berdoa, Adanya manusia yang bermacam-macam itu membuat berdoa kepada-Nya dengan beberapa pertimbangan, untuk supaya berdoa dengan timbangan yang manakah dia itu akan berdoa?

Kenapa Allah Ta’ala itu memerintahkan untuk kita sujud dalam sholat? Untuk berdoa, Bahkan kenapa Allah Ta’ala itu memberikan ada yang sakit, ada yang sembuh? Sebagaimana yang kita lihat di dalam realita kehidupan ini, ada yang hidup, ada yang mati, Semuanya takut kepada mati, Semuanya takut kepada sakit, Semuanya takut kepada bangkrut, Semuanya takut kepada fakir, Semuanya takut kepada masalah, Semuanya takut kepada problem,

Nah supaya semua itu tidak terjadi, berdoa, Pendekatan Allah kepada hamba-Nya, Oleh karenanya, coba lihat bagaimana bunyi rahmat Allah kepada hamba-Nya, rayuan Allah kepada hamba-Nya, Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an :

أدعوني أستجب لكم,

Mintalah kepada-Ku apa saja, Aku akan kabulkan, (Ghafir; 60)

Tidak pernah dikatakan,

صلوا لي، تصدقوا، صوموا لي,

Gak pernah, Tapi 'ud'uuni,

Doalah kepadaku, Aku akan kabulkan, Itulah perbedaan antara manusia dengan Allah SWT, Tuhan kita semuanya, di mana kalau kita meminta kepada sesama manusia, sekali permintaan kita akan berikan, Kedua kali, mungkin segan untuk diberikan, Ketiga kali, maka sudah bosan untuk memberikannya, Bahkan bisa membuat dia itu marah dan enggan, bahkan menolaknya serta mengusirnya,

Tapi Allah Ta’ala berbeda, Kita memohon kepada Allah Ta’ala sekali, disunahkan, Dua kali, lebih sunnah, Tiga kali, lebih dianjurkan, Berkali-kali, tambah disunnahkan, Tambah banyak kita berdoa, tambah senang Allah Ta’ala kepada kita,

Oleh karenanya, kalau kita ingin tahu, kita ini termasuk yang dicintai oleh Allah Ta’ala atau tidak, maka kita lihat seberapa sering kita berdoa, Tanyakan kepada diri kita seberapa sering kita berdoa, Maka dengan kadar sering kita berdoa dengan kadar itulah kita akan mendapatkan kedekatan bersama Allah SWT,

Oleh karena itu, berarti doa itu merupakan sebuah media, wasilah untuk kita meraih cinta Allah, untuk kita meraih ridho-Nya Allah, untuk kita meraih segala kebaikan dan anugerah yang Allah siapkan untuk kita semuanya, Doa itu adalah senjata,

Oleh karenanya, apa yang harus kita persiapkan untuk mendapatkan doa supaya dikabulkan? Yang pertama adalah kita berdoa dengan ikhlas, Ada orang yang berdoa tidak ikhlas? Ada, Banyak, Ada yang berdoa tidak ikhlas? Ada dan banyak, saya katakan, Kenapa? Doa yang ikhlas itu adalah doa, permintaan daripada seorang hamba yang mengakui dirinya itu sebagai seorang hamba, Doa yang ikhlas itu adalah doa yang keluar daripada seorang hamba, yang mengakui dirinya itu adalah seorang hamba, dan dia memohon kepada Dzat yang menciptakannya, yang mengatur semuanya, Nah, di sinilah jangan salah persepsi, Banyak orang yang salah persepsi,

Oh, saya sudah berdoa ikhlas, ikhlas saya Ustadz, makanya saya berdoa, Bukan begitu, Ikhlas dia sebagai seorang hamba, dan ikhlas Allah Ta’ala sebagai Tuhannya, Bukan hanya sebatas itu, tapi yang berkaitan dengannya juga harus ikhlas, Dia ikhlas sebagai hamba, tapi dia itu menjauhi apa yang diperintahkan-Nya, Dia mengaku dengan ikhlas sebagai seorang hamba, tapi dia itu tidak ikhlas di dalam melaksanakan atau menjauhi segala yang dilarang-Nya, Dia ikhlas, tapi dia melakukan sesuatu yang diharamkan-Nya, Dia ikhlas, tapi dia sombong, Padahal sombong itu adalah sifat-Nya Allah Ta’ala, berarti kan dia itu ingin menduakan, Kan dikatakan sombong itu adalah Syirkul ashghor, Riya', sum'ah, dan lain sebagainya, Nah itu tidak ikhlas itu, harus ikhlas,

Ikhlas itu apa? Berdoa sebagai seorang hamba kepada Allah sebagai Tuhannya, berdoa sebagai seorang hamba kepada Allah yang dianggapnya sebagai Tuhan, itu artinya ikhlas, Dan itu yang paling penting di dalam ruhnya doa, itu seperti itu, Tau kan? Doa yang ikhlas itu kalau kita memenuhi syarat-syarat yang telah disebutkan, Dia ikhlas karena dia mengakui dirinya itu adalah seorang hamba yang sangat memerlukan, Hamba tidak punya pilihan, Hamba hanya memohon, tau kan? Memohon, meminta semuanya, Memohon, memaksa, meminta semuanya, Kita semua tahu gambarannya, tapi kenapa kita tidak melakukannya kepada Allah SWT?

Makanya kita berdoa, tapi doa kita itu tidak diiringi dengan ikhlas, Sehingga apa? Doanya itu asal-asalan, Doanya itu jadi ngantuk, Doanya itu dalam keadaan pikirannya galau, Bagaimana akan dikabulkan?

Seperti yang terjadi kepada Nabi Allah, Musa AS, Di mana Allah SWT telah berkomunikasi dengan Nabi Musa, bahwasanya doanya akan dikabulkan, Berdoalah dia, Berdoa beliau, diiringi dengan umatnya semuanya, Dan beliau sudah beritahukan kepada umatnya, bahwasanya doa kita akan dikabulkan, Eh ternyata hamba tersebut yang meminta kepada Allah bahwasanya doanya akan dikabulkan, berkali-kali memohon kepada Allah Ta’ala, tetapi tidak dikabulkan, Bahkan setahun lamanya tidak dikabulkan juga,

Maka dia mengadu kepada Nabi Musa, “Nabi Musa, engkau sudah memastikan pasti akan dikabulkan, Tapi kenapa tidak dikabulkan juga?” “Kalau begitu, tunggu, Aku akan bermunajat dulu kepada Allah SWT, apa sebabnya”,

Akhirnya Nabi Musa berkata kepada Allah, “Yaa Robb, aku malu, Aku sudah terlanjur berjanji bahwasanya doanya akan dikabulkan, sebagaimana Engkau telah menjanjikannya kepada kami, Tapi kenapa tidak dikabulkan doanya?”

Maka dijawab oleh Allah SWT kepada Nabi Musa, “Wahai Musa, Bagaimana Aku akan kabulkan doanya? Dia berdoa dengan mulutnya, sementara hatinya berada di antara kambing-kambingnya”,

Nah makanya, kemudian ketika Nabi kita Muhammad SAW yang mulia menceritakan tentang cerita ini, kemudian Nabi bersabda untuk kita semuanya :

إن الله لا يقبل الدعاء من قلب غافل,

Allah Ta’ala tidak akan menerima doa daripada hati yang lalai, (HR.  At Tirmidzi, Ahmad)

سنن الترمذي ت شاكر (5/  517)

دْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ

Hatinya harus terus bersama Allah, Nah itu yang terjadi, Kenapa tidak ikhlas, Akhirnya dikatakan, Begitu disampaikan apa yang dikatakan oleh Allah kepada Nabi Musa kepada hamba tersebut, akhirnya dia mengakui, “Iya selama ini memang pikiranku seperti itu”, “Coba kamu doa, pikiranmu hanya kepada Allah”, Itu artinya ikhlas, Begitu dia berdoa kepada Allah Ta’ala, dikabulkan oleh Allah Ta’ala,

Kemudian syarat yang kedua, adalah kita husnudzan kepada Allah SWT, Husnudzan bahwasanya hanya Allah yang bisa melaksanakan, Tidak ada yang bisa merubah, Tidak ada yang bisa melaksanakan dan menerapkan permintaannya kecuali Allah, Husnudzan, Karena apa? Termasuk di antara hadits yang sangat menggembirakan bagi sahabat Nabi, dan juga bonus serta kabar gembira bagi umat ini adalah firman Allah Ta’ala yang disampaikan oleh Nabi Muhammad, yang bernama sebagai Hadits Qudsi :

أنا عند ظني عبدي بي، فليظن بي ما شاء,

Aku ini berada di prasangkanya hamba-Ku, maka hendaknya hamba-Ku itu berprasangka yang baik dengan-Ku, (HR. Ahmad)

إن خيرا فخيرا، و إن شرا فشر,

المعجم الأوسط (1/  126)

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، إِنَّ ظَنَّ خَيْرًا فَخَيْرٌ، وَإِنَّ ظَنَّ شَرًّا فَشَرٌّ»

Ya tergantung kepada dia, Oleh karenanya, kita berdoa sambil husnudzan Allah Ta’ala akan mengabulkan, Makanya kata Nabi kita Muhammad SAW juga, di antara yang tidak husnudzan itu adalah orang yang sudah berdoa beberapa kali, tapi belum juga tampak terkabulnya doanya, maka dia langsung su'udzon kepada Allah, Sudah langsung ditinggalkan, Nah, itu termasuk yang su'udzon itu, gak diiringi dengan husnudzon,

Bagaimana dikabulkan doanya? Masalahnya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok hari, Apalagi lusa, Apalagi dua hari lagi, Apalagi seminggu ke depan, Apalagi sebulan ke depan, Kita tidak tahu apa yang terjadi, Allah Ta’ala Maha Tahu, Allah Ta’ala tahu,

Oleh karenanya, Allah Ta’ala menjanjikan kepada kita semuanya, di dalam pengetahuan yang bukan pengetahuan kita, Apa itu?

كل آت قريب,

Segala sesuatu yang akan datang itu dekat bagi Allah, Dekat di dalam pengetahuan Allah, Dekat dalam pengetahuan Allah, Dalam arti, antara kita dengan yang dijanjikan-Nya, dengan yang sudah terjadi pada waktu yang sudah selama ini, entah berapa juta tahun bumi ini tercipta, Jadi dari diciptakan alam semesta, maka itu sesuatu yang dekat, Dalam Pengetahuan Allah, Dalam pengetahuan kita, kita tidak paham kenapa tidak dikabul-kabu kan, ya? Ini tidak husnudzon namanya,

Oleh karenanya, yang paling penting dari itu semuanya, syarat utama doa kita dikabulkan itu adalah makanan yang halal, Makanan yang halal, Kalau makanannya haram ataupun syubhat, kalau makanannya syubhat apalagi haram, bagaimana mungkin akan dikabulkan doanya? Kita lihat kan bagaimana hadits yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW :

إن الله طيب لا يقبل الا طيبا,

Allah Ta’ala itu Dzat Yang Maha Baik, tidak menerima kecuali dari yang baik,  (Muslim)

فذكر رجل عسعس أغبر يقول يا رب يا رب و مطعمه حرام، و ملبسه حرام، و مشربه حرام فأنى يستجاب له؟

صحيح مسلم (2/  703)

 أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} [المؤمنون: 51] وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} [البقرة: 172] ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

 

Disebutkan seseorang, yang dia itu berdoa kepada Allah Ta’ala, padahal dalam keadaan bajunya lusuh, rambutnya lusuh, awut-awutan, Yang berarti apa? Dia sudah sekian lama berjalan di dalam sebuah perjalanan, Padahal disebutkan oleh Nabi SAW, di antara doa yang dikabulkan oleh Allah Ta’ala, doanya orang yang musafir, Itu kan orang musafir, Dia sungguh-sungguh sudah jalan dari mana-mana, lusuh badannya, Awut-awutannya rambutnya, sampai dia itu tidak sempat untuk merawat dirinya dari saking khusuknya dia dalam berdoa, Tapi masalahnya bukan di situ, kalau syaratnya itu, iya dikabulkan,

Syarat itu, ya memang memenuhi, Tapi syarat yang paling utama justru ditinggalkan, Makanannya haram, Pakaiannya haram, Minumannya haram, Maka bagaimana akan dikabulkan oleh Allah Ta’ala? Jadi besar pengaruhnya,

Jadi sama seperti ini, Saya larang anak-anak murid saya, para santri dan santriwati saya, “Awas ya, Jangan kalian merokok, Karena merokok itu bisa menjauhkan kalian daripada mimpi Nabi Muhammad SAW, Dan kalian kalau mau keluar Pondok, harus minta izin kepada saya, Kalau tanpa izin daripada saya, maka dia termasuk yang melanggar”,

Lalu, tiba-tiba datang salah satu daripada murid, dan dia minta izin kepada saya sambil merokok, Dengan merokok dia itu minta izin, “Bib, saya mau ke Bangil, Bib,” ya sambil merokok, Kira-kira saya mengizinkan? Saya izinkan? Melihat dia merokok aja itu sudah sebelnya luar biasa, Kalau seumpama tidak takut dosa, gue tonjok kepalanya,

Cuma memang di dalam Islam itu harus menahan diri ya, Harus mujahadah, Karena apa? Sebenarnya ini orang dilarang, kok malah berani datang kepada saya dalam keadaan merokok?! Minta izin lagi, Lalu dia berharap izinnya akan diterima?! Lalu diberikan? Diberikan izin kepadanya? Yang ada dia mengusirnya, ambil tasnya pulang sana! Nah, itu gambarnya seperti itu,

Allah Ta’ala larang dia makan yang ini, haram, Jangan kau ambil haknya orang lain, Jangan kau zalimi orang lain, lalu kau ambil, Kalau seperti itu kamu berdoa kepada Allah Ta’ala, tidak mungkin, Maka yang paling pasti daripada syarat utamanya itu adalah makanan yang halal, Coba kita lihat kenapa Imam Syafi'i mengatakan :

الطعام الحلال دواء و شفاء,

Makanan yang halal itu obat dan juga kesembuhan,

Kenapa? Karena apa yang kita makan itu kalau halal, itu beriringan dengan ridho-Nya Allah, Ridho Allah, Inilah yang menjadikan apapun yang menjadi keinginan kita, harapan kita, angan-angan kita, cita-cita kita, permohonan kita, akan dikabulkan, Karena terkait dengan ridho-Nya Allah itu,

Dia makan sesuatu yang halal, yang sama sekali tidak terkait dengan sesuatu yang dilarang oleh Allah Ta’ala, Hingga apa? Begitu melihat orang berdoa, makanannya halal, dikabulkan, Permohonannya Allah kabulkan,

Oleh karena itu, pernah suatu waktu Syekh Abu Bakar Bin Salim, Datuk daripada semua para habaib, apalagi dari Al-Habsyi dan di antara datuknya Al-Habib Umar bin Hafidz, di mana ketika datang satu orang dari Maroko, yang dia itu mempunyai sebuah penyakit, yang semua dokter dan tabib di negaranya itu angkat tangan, Lalu dia itu mendapatkan sebuah seruan daripada seorang wali, untuk pergi ke Hadhramaut menemui Wali besar yang bernama Syekh Abu Bakar Bin Salim, Di situ kamu akan mendapatkan obatnya,

Berangkatlah beliau kepada Syekh Abu Bakar Bin Salim, Akhirnya kata Syekh Abu Bakar Bin Salim, “Apa yang kamu inginkan?” “Aku sakit dan penyakitku ini orang-orang sampai angkat tangan”, “Oh kalau begitu, kamu pergi kepada muridku Abdurrahman bin Syeikh Al-Jufri”, Berangkat lagi ia, sesuai dengan perintahnya dan titahnya,

Ketika sampai di rumahnya, maka beliau sedang bertani, Kemudian setelah ditemuinya, dia itu bertanya, “Ada apa kamu itu ke sini?” “Saya disuruh gurumu untuk datang kepadamu, Saya minta doa, minta kesembuhan dari penyakit itu”,

“Oh gitu, Ya udah, kamu makan, Kamu makan kol yang ditanam ini, Kamu makan sebanyak-banyaknya, Nanti kalau kamu sudah selesai, saya suruh masuk kamar mandi”,

Subhanallah, dia makan yang namanya kol itu, Begitu dia makan, langsung sakit perut kayak mau mencret, Begitu dia masuk kamar mandi, keluar semua penyakitnya, Keluar dari kamar mandi, sembuh sudah,

Akhirnya ditanya, “Kenapa kok bisa seperti ini?”

“Iya, Guruku memberikan petunjuk kepadamu supaya datang kepadaku, karena yang aku tanam ini, dari proses airnya, proses benihnya, dan sebagainya, semuanya halal”,

Nah ini kenapa? Allah sudah ridho, Tidak usah berdoa, Allah sudah mengabulkan, Allah Maha Tahu, Makanya kenapa Habib Abdullah Al-Haddad itu di antara qasidahnya, dan isi daripada pengaduan dan doa permohonannya :

فد كفاني علم ربي من سؤالي و اختياري

Cukup Allah itu tahu apa yang aku inginkan, Allah tahu, Jadi ketika Allah Ta’ala sudah ridho, ridho Allah Ta’ala, maka semuanya disediakan,

Kita ridho kepada seseorang, dia tahu, Datang kepada kita, kita sangat ridho kepadanya, semua keperluannya, Seperti siapa? Misalnya Abuya Zein datang bertamu kepada salah satu daripada kalian, gembiranya bagaimana diri kita? Tidak terbayangkan rumah kita kedatangan Abuya Zein, Sehingga apa? Apapun yang diperlukan, disediakan tanpa diminta, Disediakan dari mulai handuknya, sikat giginya, sabunnya, makanan kesukaannya,

Sehingga apa? Berapa kali kami itu setiap kali akan datang diundang oleh seseorang, dia tanya dulu kesukaannya Habib Segaf, Apa yang dimakan, karena dia ingin memuliakannya, Sehingga apa? Semuanya disediakan, Karena apa? Diridhoi,

Begitu pula Allah Ta’ala, Ketika Allah Ta’ala ridho kepada seorang hamba, dia itu berusaha untuk berada di dalam ranah yang halal, sesuai dengan petunjuk-Nya, sesuai dengan aturan-Nya, maka Allah Ta’ala kalau sudah ridho, tidak usah berdoa, Walaupun kita diperintahkan untuk berdoa, tapi sebelum berdoa Allah Ta’ala itu sudah tahu, Apalagi kalau seumpama kita itu berdoa, Sebelum doa, dikasih, Berdoa, maka akan diberikan oleh Allah Ta’ala, Karena yang melintaskan di dalam hati kita untuk berdoa itu juga Allah SWT,

Oleh karena itu, maka yang paling penting dan syarat utama doa kita dikabulkan itu adalah makanan yang halal,

Lalu kemudian di antaranya pula, ketika kita berdoa, kita harus bersih hati, Oleh karena itu Imam Ghazali mengatakan, “Shalat itu isinya doa, Dari awal sampai akhir, Dari mulai Allahu Akbar itu adalah doa, Kabiro walhamdulillahi katsiro itu doa, Fatihah itu doa”,

Jadi diawali dengan takbir, kemudian Iftitah, kemudian Fatihah, kemudian surat, kemudian tasbih tasbih tasbih, Ketika sujud Nabi Muhammad SAW bersabda :

إن أقربكم من ربكم و هو فى السجود,

صحيح مسلم (1/  350)

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ، وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Jadi, di antara yang paling dekat kalian kepada Tuhannya, adalah ketika kita bersujud, Justru ketika kita merendah ke bumi, Paling rendahnya itu ketika kita bersujud, Di situlah kita dekat pada Allah Ta’ala,

Jadi filsafat yang bisa kita ambil, kalau kita dekat kepada Allah Ta’ala sekarang hilangkan segala hawa nafsu kita, Hilangkan segala gengsi kita, Hilangkan segala kesombongan kita, Sampai kita itu merata antara kita dengan tanah, tidak ada bedanya kita itu dengan tanah,

 مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى (55)

(Thoha; 55)

Dari situ kita diciptakan, dan nanti kita akan dikembalikan ke tanah juga, Dan dari tanah itu pula, kita akan dibangkitkan selama-lamanya, nanti kita akan hidup,

Nah tanah, Jadi diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk kita khusyuk, hudu’, hadir, Ketika kita itu berdoa, hadir, Kita resapi, Kalau kita membaca wirid sambil lihat HP, Baca wirid sambil kita ngomong, Baca wirid sambil kita termenung, Baca wirid sambil kita ngantuk, Bagaimana akan dikabulkan? Waktu baca :

اللهم إني أسألك من فجائة الخير و أعوذ بك من فجائة الشر, اللهم أنت ربي لا اله الا انت خلقتني و أنا عبدك و أنا على عهدك و وعدك ما استطعت و أعوذ بك من شر ما صنعت,

Yaitu apa? Kita itu minta, bermunajat, itu permohonan kepada Allah Ta’ala, Bukan kita baca permohonan itu kepada Allah Ta’ala, kita harus hadir, Dan itu di antara syaratnya,

Kemudian di antara syaratnya pula, yang kita panjatkan bukan doa-doa yang dilarang oleh Allah Ta’ala, Allah melarang kebohongan, dia berdoa, Allah melarang memutuskan silaturahmi, dia berdoa untuk memutuskan silaturahmi, Allah melarang pembunuhan, dia minta kepada Allah supaya orang itu mati, Allah melarang menginginkan orang lain itu dalam keadaan sengsara, dia berdoa orang lain itu sengsara, Maka yang semacam ini tidak akan dikabulkan oleh Allah Ta’ala, Tidak memenuhi syarat-syarat doa yang dikabulkan, Kenapa? Karena Allah melarang terkait dengan murka-Nya Allah, bagaimana akan terkabulkan?

Oleh karena itu, waktu kita sudah habis, Dan kita akan melanjutkan sesi yang kedua besok, Yaitu kita akan berbicara terkait sopan santun berdoa, bagaimana kita berdoa, dan doa apa saja yang mudah untuk dikabulkan oleh Allah Ta’ala, serta bagaimana bentuk Allah mengabulkan doa kepada hamba-Nya,

Kita harus tahu bagaimana pengetahuan Allah Ta’ala kepada kita, Apa yang harus dilakukan oleh kita menghadapi pengetahuan Allah Ta’ala itu untuk kita, Mana yang terbaik untuk kita, sehingga kita itu diperintahkan untuk berdoa, tapi sambil kita meyakini bahwasanya apapun yang ditentukan oleh Allah Ta’ala itu yang terbaik,

Semoga kita semua termasuk yang dikabulkan doanya semuanya, Semoga kita semua termasuk yang dikabulkan semua doanya, Semoga kita semua termasuk yang diberikan lintasan untuk berdoa kepada-Nya, Dan semoga kita semuanya termasuk yang khusyuk dan hudu’ dalam berdoa, sehingga kita mendapatkan permohonan kita semuanya diijabah oleh Allah Ta’ala,

Dan semoga semua permasalahan yang terjadi di dalam umat ini maupun bangsa Indonesia ini, cepat dihilangkan oleh Allah Ta’ala, Dan digantikan dengan keamanan dan kesejahteraan, ketentraman Insya Allah, Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin…

Post a Comment for "Hubungan Erat Antara Doa dan Ibadah"